arahkata – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni kembali menjadi sorotan publik usai pernyataannya yang menohok terkait seruan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Politikus NasDem itu menyebut ide pembubaran DPR sebagai “ide paling tolol sedunia”.
Pernyataan keras tersebut dilontarkan Sahroni menanggapi riuhnya seruan publik yang mengkritisi kinerja parlemen. Isu pembubaran DPR mencuat di media sosial setelah muncul berbagai protes atas kebijakan dan perilaku sejumlah anggota dewan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
“Kalau ada yang bilang DPR harus dibubarkan, itu ide paling tolol sedunia. Bagaimana mungkin sebuah negara demokrasi bisa berjalan tanpa parlemen? Itu sama saja ingin negara ini hancur,” tegas Sahroni di Jakarta, Jumat (23/8).
Kritik Tajam pada Seruan Pembubaran DPR
Menurut Sahroni, kritik terhadap kinerja DPR sah-sah saja. Bahkan, ia menilai kritik publik sebagai vitamin agar dewan bisa bekerja lebih baik. Namun, jika sampai muncul ajakan membubarkan lembaga negara yang menjadi pilar demokrasi, menurutnya hal itu kelewatan.
“Kalau mau kritik DPR, silahkan. Mau protes anggota dewan malas, korup, atau tidak bekerja, itu hak rakyat. Tapi jangan pernah berpikir untuk bubarkan DPR. Itu kebablasan, dan sangat tidak masuk akal,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa DPR merupakan lembaga konstitusional yang dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu. “Anggota DPR itu dipilih rakyat, bukan ditunjuk. Kalau ada yang tidak puas, caranya ya jangan pilih lagi di pemilu berikutnya. Itu mekanisme yang benar dalam demokrasi,” tambahnya.
Baca Juga: Pasha Anggap Tindakan Dewan Joget Usai Sidang Tahunan Tak Pantas
Publik Tetap Nyinyir
Meski pernyataan Sahroni cukup keras, respons publik di media sosial tetap beragam. Sebagian netizen menganggap Sahroni hanya mencari pembelaan, mengingat banyak anggota dewan kerap menuai kontroversi.
“Pak Sahroni jangan marah-marah, rakyat bosan lihat DPR kerjaannya lebih sering bikin gaduh daripada hasil nyata,” tulis seorang pengguna X (Twitter).
Namun, ada pula yang mendukung pandangan Sahroni. “Setuju DPR tidak bisa dibubarkan, tapi memang harus ada reformasi besar. Jangan sampai citra DPR makin anjlok,” tulis akun lain.
Pesan untuk Anggota DPR
Dalam kesempatan yang sama, Sahroni juga mengingatkan koleganya sesama anggota dewan untuk menjaga etika dan kinerja. Ia menilai penyebab munculnya seruan pembubaran DPR justru karena ulah sebagian anggota dewan yang sering bertingkah kontroversial.
“Jangan salahkan rakyat kalau marah. Kalau ada anggota yang suka pamer harta, tidur saat rapat, atau malah berjoget usai sidang, itu jelas bikin citra DPR makin buruk. Makanya, kita sebagai wakil rakyat harus introspeksi,” ungkapnya.
Menolak Anti-Demokrasi
Sahroni menegaskan bahwa seruan membubarkan DPR sama saja dengan menolak demokrasi. Ia menilai masyarakat sebaiknya menggunakan saluran yang konstitusional jika ingin perubahan nyata.
“Kalau mau DPR lebih baik, gunakan hak pilih dengan bijak. Pilih orang yang kredibel, jangan asal pilih karena uang atau popularitas. Demokrasi itu tidak sempurna, tapi jelas lebih baik daripada tidak ada sama sekali,” tegas Sahroni.
Dengan pernyataan tegasnya, Sahroni seolah ingin menutup wacana liar soal pembubaran DPR. Meski begitu, polemik ini diperkirakan masih akan terus bergulir, terutama mengingat rendahnya kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif yang sering disebut sebagai lembaga paling tidak dipercaya di Indonesia.







