Jakarta,arahkata – Pemerintah Indonesia tengah gencar mengembangkan gas dimetil eter (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG). Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan impor LPG yang setiap tahun menelan subsidi besar dan membebani anggaran negara.
Gas Dimethyl Ether (DME) adalah senyawa kimia dengan rumus molekul CH₃OCH₃. Ia berbentuk gas pada suhu ruang, namun bisa dicairkan pada tekanan rendah — mirip dengan LPG.
DME dihasilkan dari proses gasifikasi batubara, biomassa, atau limbah organik, yang kemudian diubah menjadi gas sintesis (syngas) dan dikonversi menjadi DME melalui reaksi kimia tertentu.
Di Indonesia, pemerintah menggandeng PT Pertamina, Air Products, dan PT Bukit Asam untuk membangun pabrik DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1,4 juta ton DME per tahun.
Selama ini, lebih dari 70% kebutuhan LPG di Indonesia masih impor, terutama dari Timur Tengah. Kondisi ini membuat Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga global dan tekanan pada neraca perdagangan.
Dengan memproduksi DME di dalam negeri, pemerintah berharap bisa menghemat devisa hingga Rp9 triliun per tahun dan sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional.
“Gas DME memiliki karakteristik pembakaran yang mirip dengan LPG, sehingga bisa digunakan dengan sedikit modifikasi pada kompor rumah tangga,” jelas Kementerian ESDM dalam keterangan resminya.
Kelebihan DME Dibanding LPG
-
🔹 Bahan baku lokal
DME bisa diproduksi dari sumber domestik seperti batubara atau biomassa, sehingga tidak bergantung pada impor. -
🔹 Ramah lingkungan
Emisi karbon dari pembakaran DME lebih rendah dibanding LPG, karena tidak menghasilkan jelaga atau sulfur. -
🔹 Lebih aman
Titik nyala DME lebih tinggi, sehingga risiko ledakan lebih kecil dibanding LPG. -
🔹 Potensi ekonomi lokal
Pengembangan DME menciptakan lapangan kerja dan mendorong aktivitas industri di daerah penghasil batubara.
Tantangan Implementasi DME
Meski menjanjikan, penggunaan DME sebagai pengganti LPG tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya adalah infrastruktur distribusi dan kesiapan alat rumah tangga.
Kompor dan tabung LPG yang beredar saat ini masih perlu modifikasi ringan agar kompatibel dengan DME. Selain itu, harga produksi DME juga masih relatif tinggi, sehingga perlu dukungan subsidi dan regulasi transisi dari pemerintah.
Baca Juga : Rupiah Melemah Tipis Jelang Perundingan AS-China dan Rapat The Fed
Gas DME merupakan alternatif energi bersih dan berkelanjutan yang berpotensi menggantikan LPG impor. Dengan dukungan teknologi, investasi, dan kebijakan yang tepat, Indonesia bisa mencapai kemandirian energi rumah tangga sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional.







