Faldo Maldini Tanggapi Serangan Hoaks PSI, Ingatkan Penggunaan AI Tak untuk Fitnah

Putri Arahkata

Bakal Calon Walikota Tangerang Faldo Maldini. Foto: Dok.arahkata.com

arahkata.com – Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang Komunikasi Publik, Faldo Maldini, buka suara menanggapi serangan hoaks yang kembali menyasar partainya. Kali ini, PSI menjadi korban manipulasi informasi terkait pernyataan Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang disebut-sebut mengusulkan “duet Gibran Rakabuming Raka Joko Widodo” untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Melalui keterangan resminya di Jakarta, Faldo menegaskan bahwa narasi tersebut tidak benar dan bersifat menyesatkan, karena pernyataan asli Ahmad Ali sama sekali tidak berkaitan dengan isu politik 2029. Menurutnya, hoaks tersebut muncul dari potongan video wawancara yang telah direkayasa dan disebarkan secara masif di berbagai platform media sosial, termasuk X (Twitter), TikTok, dan Instagram.

“Pernyataan asli Pak Ahmad Ali itu membahas evaluasi program makan bergizi di tahun pertama pemerintahan Prabowo Gibran. Tidak ada sama sekali pembicaraan tentang Pilpres 2029,” tegas Faldo dalam konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2025).

Faldo Sebut Hoaks Sudah Jadi Senjata Politik Murahan

Faldo menilai bahwa fenomena hoaks kini telah menjadi senjata politik murahan yang digunakan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menjatuhkan citra partai tertentu. Ia menegaskan, PSI akan tetap fokus bekerja dan tidak akan terjebak dalam provokasi yang dibuat untuk mengganggu konsentrasi kader di lapangan.

“Serangan hoaks ini bukan yang pertama kali kami alami. Sudah sering. Tapi justru dari sini kami belajar bahwa kebenaran tidak boleh kalah oleh kebohongan. PSI berdiri untuk menyuarakan politik bersih dan jujur,” ujar Faldo.

Ia menambahkan, tim media dan digital PSI kini tengah menelusuri asal-usul penyebaran video palsu tersebut. Jika ditemukan adanya unsur pelanggaran hukum, partai akan melaporkan pelaku ke pihak berwenang.

“Kami tidak main-main dengan fitnah. Kalau ada yang terbukti sengaja memelintir pernyataan untuk menyerang PSI, kami akan tempuh jalur hukum. Ini bukan sekadar urusan nama baik, tapi juga edukasi politik publik,” tambahnya.

Baca Juga: PDIP Nilai Usul Soeharto Pahlawan Masih Terganjal Hal yang Belum Klir

Ancaman Baru di Dunia Politik

Dalam kesempatan yang sama, Faldo juga menyoroti fenomena penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembuatan konten hoaks. Ia mengingatkan publik bahwa kemajuan teknologi tidak boleh digunakan untuk menyebarkan fitnah atau memanipulasi fakta.

“Artificial Intelligence itu ciptaan manusia untuk memudahkan hidup kita, bukan untuk menyesatkan. Jangan digunakan untuk fitnah. Fitnah itu dosa, dan dilaknat oleh Allah SWT,” ucapnya.

Faldo mengaku prihatin karena semakin banyak beredar video manipulatif atau deepfake yang meniru wajah dan suara tokoh politik untuk menyampaikan pernyataan palsu. Hal ini, kata dia, dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang beredar di ruang digital.

Menurut Faldo, penting bagi semua pihak, baik pemerintah, media, maupun masyarakat sipil, untuk membangun kesadaran digital (digital literacy) agar publik tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum terverifikasi.

“Kalau kita terus membiarkan hoaks berbasis AI menyebar tanpa tanggung jawab, demokrasi bisa hancur pelan-pelan. Karena masyarakat akan sulit membedakan mana fakta, mana kebohongan,” jelasnya.

PSI Ajak Publik Bijak Menyaring Informasi

Faldo juga menyerukan agar masyarakat lebih berhati-hati sebelum membagikan informasi di media sosial. Ia menegaskan, kebebasan berekspresi di ruang digital tetap harus disertai dengan tanggung jawab moral dan sosial.

“Kalau menerima konten yang provokatif atau terlalu sensasional, jangan langsung percaya. Periksa dulu sumbernya. Apakah dari media resmi, apakah ada klarifikasi dari pihak yang disebut. Jangan sampai jari kita ikut menyebarkan dosa karena asal share,” ujarnya dengan nada tegas.

Dalam pernyataannya, Faldo menyebut bahwa PSI berkomitmen untuk mendorong literasi digital politik di kalangan anak muda. Program pelatihan yang berfokus pada edukasi anti-hoaks dan pemanfaatan AI secara etis akan diluncurkan oleh PSI dalam waktu dekat.

“Kami sedang menyiapkan pelatihan nasional tentang penggunaan AI yang positif. Kita ingin anak muda Indonesia tidak hanya jadi pengguna teknologi, tapi juga penggerak perubahan lewat inovasi yang bermanfaat,” ungkapnya.

Respons Internal PSI: Tetap Tenang dan Fokus

Menanggapi serangan hoaks tersebut, DPP PSI menginstruksikan seluruh kader di daerah untuk tetap tenang dan tidak membalas dengan emosi. Faldo mengatakan, cara terbaik melawan kebohongan adalah dengan menyampaikan fakta secara konsisten dan sopan.

“Kader PSI jangan terpancing. Kita lawan kebohongan dengan kebenaran, tapi tanpa kebencian. Politik kita tetap harus beradab,” tutur Faldo.

Beberapa kader PSI, termasuk anggota DPRD dari berbagai daerah, turut menyuarakan dukungan atas pernyataan Faldo melalui media sosial. Mereka menegaskan bahwa PSI tetap solid menghadapi serangan digital yang berpotensi merusak reputasi partai.

Salah satu kader PSI, Tsamara Amany, menulis di akun X miliknya, “Hoaks bukanlah bagian dari demokrasi. Terima kasih @FaldoMaldini yang selalu tegas melawan disinformasi dengan kepala dingin.”

Baca Juga: Prabowo di Hari Sumpah Pemuda Rakyat Indonesia Harus Hidup Layak

Langkah PSI Bisa Jadi Contoh Bagi Parpol Lain

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Dr. Yusa Fadilah, menilai langkah PSI untuk menanggapi hoaks secara terbuka merupakan strategi komunikasi yang tepat. Menurutnya, klarifikasi cepat dari tokoh internal bisa mencegah informasi palsu berkembang liar.

“Dalam konteks komunikasi politik digital, kecepatan merespons itu penting. Faldo tampil dengan data dan nada tenang, ini bisa mengembalikan kepercayaan publik pada PSI,” ujar Yusa kepada wartawan, Selasa (29/10/2025).

Ia juga menilai pernyataan Faldo tentang etika penggunaan AI relevan dengan kondisi saat ini, di mana teknologi semakin mudah digunakan untuk kepentingan politik.

“AI bisa jadi alat kebaikan, tapi juga alat keburukan. Faldo memberi pesan moral yang kuat, dan ini harus jadi refleksi bagi semua partai politik di Indonesia,” tambahnya.

PSI Tegas Lawan Fitnah, Dorong Etika Digital

Menutup pernyataannya, Faldo Maldini kembali menegaskan bahwa PSI tidak akan membiarkan serangan hoaks melemahkan semangat partai. Ia berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar dunia politik Indonesia lebih berintegritas dan tidak mudah terjebak dalam narasi palsu.

“Kami akan terus melangkah dengan keyakinan bahwa kebenaran akan selalu menang. AI itu alat, manusianya yang menentukan mau dipakai untuk kebaikan atau kejahatan. Kami pilih kebaikan,” pungkasnya.

Dengan demikian, isu “duet Gibran Jokowi 2029” yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial dapat dipastikan tidak benar dan hanyalah hasil manipulasi digital. PSI menegaskan akan terus memperjuangkan politik jujur, berintegritas, dan beradab di tengah derasnya arus disinformasi digital yang melanda ruang publik Indonesia.

Berita Hari Ini

Leave a Comment