Jakarta,arahkata – Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah muncul sinyal bahwa pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi dimulai kembali. Sentimen positif tersebut membuat pasar energi global merespons dengan aksi jual, karena pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak dapat kembali meningkat jika ketegangan mereda.
Data perdagangan terbaru menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent turun sekitar 52 sen atau 0,55 persen menjadi US$94,27 per barel. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak juga merosot lebih dari 4 persen pada sesi perdagangan sebelumnya, mencerminkan perubahan cepat sentimen pasar terhadap perkembangan diplomatik.
Penurunan harga juga dipengaruhi ekspektasi bahwa konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi dapat segera mereda. Jika pembicaraan damai berhasil, pasokan dari kawasan produsen utama berpotensi kembali mengalir normal. Kondisi ini dinilai mampu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan suplai global.
Baca Juga : Survei Poltracking MBG Sokong Kepuasan Publik Terhadap Prabowo
Selain itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga tercatat turun sekitar US$1,04 menjadi kisaran US$90,24 per barel. Pelemahan ini menunjukkan bahwa pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan diplomasi, bahkan sebelum kesepakatan resmi tercapai.
Analis komoditas menilai bahwa pelaku pasar kini lebih fokus pada sinyal politik dibanding faktor fundamental jangka pendek. Harapan bahwa jalur pengiriman minyak penting seperti Selat Hormuz dapat kembali normal membuat tekanan terhadap harga semakin besar. Jika dialog damai benar-benar terwujud, harga minyak berpotensi stabil atau bahkan turun lebih lanjut.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa situasi masih dinamis. Ketegangan yang kembali meningkat dapat dengan cepat membalikkan arah harga.







