arahkata – Jakarta, 27 September 2025. Gelombang kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat Badan Gizi Nasional (BGN) berada dalam sorotan publik. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, bahkan tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan permohonan maaf secara terbuka dalam konferensi pers di kantor BGN, Jumat (26/9).
Tangis Waka BGN di Depan Publik
Dengan suara bergetar, Nanik menyampaikan rasa prihatin yang mendalam terhadap ribuan korban yang mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan dari dapur MBG. “Melihat gambar-gambar di video sedih hati saya. Kalau anak saya panas saja, saya sudah stres bukan main, apalagi melihat anak-anak sampai digotong ke puskesmas,” ucapnya sembari menyeka air mata.
Ia menegaskan BGN bertanggung jawab penuh atas insiden ini dan berjanji akan memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Baca Juga: Purbaya Tantang Rocky Gerung, Siap Minta Maaf Jika Pertumbuhan Ekonomi 6%
Data Korban Keracunan
Berdasarkan catatan resmi BGN, sejak Januari hingga 25 September 2025, terdapat 5.914 penerima manfaat yang terdampak insiden keamanan pangan dalam program MBG. Dari jumlah tersebut, 2.210 orang mengalami keracunan hanya dalam bulan September, meningkat dari Agustus yang mencatat 1.980 korban.
Fenomena ini memperlihatkan adanya tren kenaikan kasus, meskipun program MBG digadang-gadang sebagai langkah strategis pemerintah dalam pemenuhan gizi anak dan masyarakat miskin.
Lemahnya Pengawasan Lapangan
Nanik secara terbuka mengakui adanya kelemahan pengawasan internal. Menurutnya, sekitar 80% pelaksanaan program MBG di lapangan tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Hal ini terjadi baik di level mitra penyedia maupun tim pelaksana BGN sendiri.
“Ini kelalaian kami dalam mengawasi mitra di lapangan. Karena itu, kami ambil langkah tegas agar program ini tetap bisa berjalan dengan kualitas dan keamanan yang baik,” kata Nanik.
Penutupan Puluhan Dapur MBG
Sebagai tindak lanjut, BGN menutup 40 dapur MBG yang terbukti melanggar SOP. Total ada 45 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditemukan tidak memenuhi standar, dan sebagian besar dihentikan operasionalnya hingga investigasi selesai dilakukan.
Selain itu, seluruh mitra diwajibkan melengkapi sertifikasi penting, yakni:
-
Sertifikat Layak Higienis dan Sanitasi (SLHS)
-
Sertifikat Halal
-
Sertifikat penggunaan air layak pakai
Mitra yang tidak mampu melengkapi persyaratan dalam waktu satu bulan dipastikan akan dicoret dari program.
Jaminan untuk Korban
BGN menegaskan siap menanggung seluruh biaya pengobatan korban, baik yang dirawat jalan maupun yang harus menjalani perawatan di rumah sakit. Menurut Nanik, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab negara terhadap masyarakat yang seharusnya mendapatkan manfaat positif dari program MBG.
“Tidak boleh ada korban yang menanggung sendiri biaya pengobatan. Semua ditanggung BGN, tanpa kecuali,” tegasnya.
Ajakan Partisipasi Masyarakat
Selain langkah internal, BGN juga mengajak orang tua, pemerintah daerah, dan masyarakat luas untuk ikut mengawasi dapur MBG di wilayah masing-masing. Layanan pengaduan 24 jam disediakan untuk menerima laporan dugaan pelanggaran SOP maupun temuan penyimpangan lainnya.
“Kami butuh mata dan telinga masyarakat agar pelaksanaan program MBG benar-benar sesuai standar. Jangan ragu melapor jika ada dapur yang tidak higienis atau makanan mencurigakan,” ujar Nanik.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Tuai Kritik, Ahli Gizi: Miris Lihat Faktanya
Desakan Publik untuk Perbaikan Sistem
Publik menilai masalah ini bukan sekadar soal teknis dapur, tetapi menyangkut sistem program secara keseluruhan, mulai dari mekanisme pengadaan bahan makanan, proses distribusi, hingga pelatihan tenaga dapur. Banyak pengamat gizi menyebut bahwa tanpa pembenahan menyeluruh, program MBG bisa terus menjadi sumber masalah baru.
“Jika dibiarkan, program ini justru kontraproduktif. Anak-anak yang seharusnya sehat malah jatuh sakit. Pemerintah harus benar-benar serius membenahi sistem, bukan sekadar menutup dapur bermasalah,” ujar seorang pakar gizi dari Universitas Indonesia.
Tekanan Publik dan Harapan Baru
Kini, BGN berada dalam tekanan publik. Kasus ini menjadi ujian besar bagi kredibilitas lembaga yang baru beberapa tahun dibentuk itu. Nanik berjanji akan menuntaskan evaluasi nasional dalam waktu dekat dan memastikan dapur MBG yang beroperasi kembali sudah sesuai standar.
Meski sempat larut dalam tangis, Nanik S. Deyang menutup konferensi pers dengan nada tegas: “Kami akan perbaiki semuanya. Program ini tidak boleh gagal, karena menyangkut masa depan anak-anak Indonesia.”







