Prabowo Tegaskan Kesalahan Sistemik MBG Harus Segera Dihentikan

Putri Arahkata

Foto Presiden Prabowo Subianto. Dok: arahkata

arahkata – Jakarta, 30 September 2025. Presiden Prabowo Subianto akhirnya menanggapi langsung kontroversi besar terkait insiden keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pidato di Munas VI PKS yang disiarkan luas dan menjadi viral di berbagai platform media sosial, Prabowo menegaskan bahwa masalah yang muncul bukan sekadar insiden teknis, melainkan sebuah kesalahan sistemik. Ia menekankan bahwa sistem yang salah harus dihentikan segera, dievaluasi, dan diperbaiki agar tidak menimbulkan korban baru.

Prabowo: “Kesalahan Sistemik Harus Dihentikan”

Prabowo secara lugas mengakui adanya kelemahan dalam penyelenggaraan MBG. Meski ia menyoroti bahwa program ini telah menjangkau sekitar 30 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia, Prabowo menegaskan skala besar bukan alasan untuk menoleransi kesalahan.

“Ada penyimpangan sistemik, iya. Ada kekurangan, iya. Sistem ini harus kita perbaiki, harus kita hentikan,” ujarnya dengan nada tegas.

Menurutnya, jika program MBG dipaksakan tetap berjalan dengan sistem yang salah, maka risiko kegagalan akan semakin besar. “Bayangkan kalau kita paksakan dengan secepatnya, penyimpangan atau kekurangan bisa terjadi lebih dari itu,” tambahnya.

Angka Keracunan Masih Jadi Sorotan

Dalam pidatonya, Prabowo juga mengungkap data yang menyebut keracunan hanya mencakup sekitar 0,00017 persen dari total makanan yang disalurkan. Secara statistik, angka itu memang sangat kecil dibandingkan jutaan porsi makanan yang sudah dibagikan.

Namun, pernyataan ini justru menuai perdebatan. Sejumlah pengamat menilai bahwa meski persentase kecil, dampak psikologis dan sosial dari kasus keracunan tidak bisa diabaikan. Fakta bahwa ratusan anak di Bandung Barat, Garut, dan sejumlah daerah lain jatuh sakit tetap menjadi indikator kegagalan serius yang menuntut koreksi.

“Sekecil apa pun angka itu, jika nyawa anak-anak dipertaruhkan, maka harus dianggap besar,” ujar Dian Puspitasari, aktivis kesehatan anak.

Baca Juga: Bakteri Pemicu Keracunan MBG di Bandung Barat Akhirnya Teridentifikasi

Penutupan SPPG Bermasalah

Sebagai tindak lanjut, Prabowo memerintahkan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti bermasalah segera ditutup sementara. Pemerintah akan melakukan investigasi menyeluruh sebelum mengizinkan dapur-dapur tersebut beroperasi kembali.

Instruksi ini diharapkan dapat memutus rantai kelemahan yang berawal dari dapur penyedia makanan, distribusi, hingga standar sanitasi. Prabowo menegaskan bahwa perbaikan sistem akan menjadi prioritas, meski ia juga menekankan agar tujuan program tidak dikesampingkan.

“Program ini baik dan mulia, tetapi tidak boleh dijalankan dengan sistem yang berantakan. Keselamatan rakyat, terutama anak-anak, harus menjadi nomor satu,” ujarnya.

Respons DPR dan Publik

Pernyataan Presiden ini langsung menuai tanggapan dari DPR. Beberapa anggota Komisi IX menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk kesadaran pemerintah terhadap akar masalah, namun tetap menuntut pertanggungjawaban konkret.

“Presiden sudah mengakui ada kesalahan sistemik. Maka langkah berikutnya adalah audit menyeluruh dan transparansi hasilnya kepada publik,” kata Agus Santoso, anggota Komisi IX DPR RI.

Di sisi lain, masyarakat di media sosial terbelah. Sebagian mengapresiasi sikap jujur Presiden yang berani mengakui adanya penyimpangan. Namun, sebagian lain mengkritik penyebutan angka 0,00017 persen yang dianggap meremehkan penderitaan korban.

Baca Juga: Menkes Wajibkan Dapur SPPG Kantongi Sertifikat Higienis demi Cegah Kasus Keracunan MBG

Tantangan Perbaikan Sistem

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Prof. Rudi Hartono, menilai bahwa evaluasi MBG harus mencakup aspek hulu hingga hilir. “Mulai dari pengadaan bahan baku, proses dapur, distribusi ke sekolah, hingga monitoring kesehatan penerima, semua harus dibenahi. Ini bukan hanya soal angka, tapi tentang kepercayaan publik,” jelasnya.

Menurutnya, langkah menghentikan sementara SPPG bermasalah adalah keputusan tepat, tetapi harus dibarengi dengan peta jalan perbaikan. Tanpa itu, kepercayaan masyarakat terhadap program MBG akan semakin tergerus.

Harapan ke Depan

Meski diwarnai kritik, banyak pihak tetap berharap MBG tidak dihentikan secara permanen. Program ini dinilai sangat penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah dan ibu hamil di daerah miskin. Namun, publik menuntut adanya standar keamanan makanan yang ketat, transparansi data, dan pengawasan independen.

“Jangan sampai tujuan mulia program ini dikalahkan oleh kelemahan sistem. Perbaiki, benahi, libatkan ahli gizi dan pengawas independen, baru lanjutkan,” tegas Ratna Dewi, perwakilan Forum Orang Tua Murid di Bandung Barat.

Pernyataan tegas Prabowo bahwa “kesalahan sistemik harus dihentikan” menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah menyadari adanya masalah fundamental dalam pelaksanaan MBG. Kini tantangan terbesar bukan hanya mengakui, tetapi memastikan bahwa langkah perbaikan benar-benar dijalankan secara transparan, cepat, dan menyeluruh.

Bagi masyarakat, yang terpenting adalah keselamatan anak-anak dan penerima manfaat program. Dengan perbaikan serius, program MBG bisa tetap berjalan sesuai tujuan mulianya: memastikan generasi muda Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berkualitas.

Berita Hari Ini

Leave a Comment