Banjir Bandang di Bali: Alih Fungsi Lahan dan Sampah Jadi Pemicu Utama Menurut Menteri LHK

Putri Arahkata

Banjir Bandang di Bali: Alih Fungsi Lahan dan Sampah Jadi Pemicu Utama Menurut Menteri LHK
Denpasar, Bali — Musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada awal September 2025 meninggalkan duka mendalam bagi

arahkata Denpasar, Bali — Musibah banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Bali pada awal September 2025 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Bencana ini menelan banyak korban jiwa sekaligus menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit. Hingga Kamis malam, 11 September 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 16 orang. Dari total tersebut, sepuluh korban ditemukan di wilayah Denpasar, dua di Jembrana, tiga di Gianyar, dan satu korban di Badung. Selain itu, satu orang masih dinyatakan hilang dan terus dalam pencarian tim gabungan.

BNPB bersama pemerintah daerah Bali telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama satu minggu, mulai 10 September. Keputusan ini diambil mengingat besarnya dampak banjir bandang yang tidak hanya menimpa pusat kota, tetapi juga wilayah lain seperti Gianyar, Jembrana, dan Badung. Sejumlah warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam banjir maupun tertimbun lumpur.

BAJA JUGA :Isi Chat Kasus Pemerasan Dibongkar dalam Sidang, Nikita Mirzani Tak Terima


Kondisi di Lapangan Mulai Terkendali

Meski banjir bandang sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat, BNPB melaporkan bahwa situasi perlahan mulai terkendali. Air di sejumlah titik sudah surut, meski meninggalkan tumpukan lumpur dan sampah. Proses pembersihan masih terus dilakukan, baik oleh petugas gabungan maupun relawan. Salah satu lokasi yang cukup parah terdampak adalah basement Pasar Badung di Denpasar. Lumpur tebal dan sampah menumpuk di area tersebut, sehingga memerlukan pompa air dan alat berat untuk membersihkannya.

Selain membersihkan material banjir, tim penyelamat juga masih fokus melakukan pencarian korban hilang. Upaya ini dilakukan di sepanjang aliran sungai serta lokasi yang dilaporkan mengalami longsor. Warga yang terdampak banjir sementara waktu tinggal di posko-posko pengungsian, balai desa, hingga tempat ibadah.


Penyebab Bencana Menurut Menteri LHK

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Faisol Nurofiq, memberikan penjelasan mengenai penyebab banjir bandang yang terjadi di Bali. Menurutnya, curah hujan ekstrem memang menjadi faktor utama. Hujan deras berlangsung lebih dari dua hari berturut-turut, sehingga debit air meluap dan tidak tertampung oleh saluran yang ada. Namun, faktor alam ini bukan satu-satunya penyebab. Ada hal lain yang memperburuk dampak banjir, yaitu masalah sampah dan alih fungsi lahan.

Hanif menyebut bahwa sistem pengelolaan sampah di beberapa daerah belum berjalan optimal. Banyak saluran drainase tersumbat oleh tumpukan sampah lama yang bercampur dengan sampah baru akibat banjir. Akibatnya, air tidak bisa mengalir lancar menuju sungai, melainkan meluap ke jalan dan permukiman warga. Kondisi ini diperparah oleh volume air yang sangat besar, sehingga banjir tidak dapat terhindarkan.

Selain persoalan sampah, Menteri LHK juga menyoroti praktik alih fungsi lahan di Bali. Kawasan yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau, seperti sawah, tegalan, hingga lereng perbukitan, banyak yang dialihfungsikan menjadi bangunan komersial. Pertumbuhan pesat vila, hotel, kafe, dan properti wisata lain membuat daerah resapan air semakin berkurang. Padahal, ruang terbuka hijau sangat penting untuk menyerap air hujan sekaligus mengurangi risiko banjir bandang.


Bantahan dari Pemerintah Daerah

Tudingan terkait alih fungsi lahan sempat ditanggapi oleh Gubernur Bali, Wayan Koster. Ia membantah bahwa banjir besar di Denpasar disebabkan langsung oleh konversi lahan. Menurutnya, alih fungsi memang terjadi, tetapi lokasinya lebih banyak berada di wilayah Kuta Utara (Kabupaten Badung) dan sebagian Gianyar. Sedangkan di Denpasar sendiri, alih fungsi lahan relatif tidak signifikan.

Namun, Koster juga mengakui bahwa dampak konversi lahan di daerah hulu tetap bisa dirasakan di wilayah hilir. Aliran sungai yang melewati Denpasar membawa limpasan air dari kawasan atas, sehingga meskipun perubahan tata guna lahan tidak terjadi di Denpasar, wilayah ini tetap merasakan dampaknya.


Data Dampak Banjir dan Longsor

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa hujan ekstrem di Bali dipengaruhi fenomena gelombang Rossby ekuatorial. Kondisi ini memicu curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat, yang berkontribusi besar terhadap banjir bandang.

Selain banjir, longsor juga terjadi di sejumlah daerah. BNPB mencatat lebih dari 120 titik banjir disertai longsor. Denpasar menjadi daerah dengan titik terbanyak yaitu 81 lokasi. Gianyar mencatat 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Klungkung 1 titik. Untuk longsor, terdapat 18 kejadian yang mayoritas terjadi di Karangasem dengan 12 lokasi, Gianyar 5 lokasi, dan Badung 1 lokasi.

Bencana ini memaksa lebih dari 560 warga mengungsi ke lokasi aman. Mereka ditempatkan di sekolah, balai banjar, musala, dan posko darurat. Pemerintah pusat bersama BNPB telah menyalurkan bantuan logistik berupa ratusan paket sembako, selimut, matras, serta tenda darurat. BNPB juga menyiapkan perahu karet bermesin dan pompa air untuk mempercepat proses evakuasi serta pembersihan. Di tahap berikutnya, pemerintah akan memberikan dana stimulan kepada korban yang rumahnya mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat.

BAJA JUGA : Menko PMK Sebut Kasus Balita Cacingan Sebagai Alarm Nasional


Imbauan dan Langkah Lanjutan

Menteri LHK menegaskan bahwa bencana ini harus dijadikan pelajaran penting. Pemerintah daerah bersama masyarakat harus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Ada dua poin utama yang ditekankan Hanif Faisol. Pertama, memperbaiki sistem pengelolaan sampah agar tidak lagi menjadi penyumbat saluran drainase. Kedua, menjaga kelestarian kawasan hijau dan ruang terbuka sebagai area resapan air. Ia menegaskan bahwa alih fungsi lahan tanpa perencanaan hanya akan memperbesar risiko bencana di masa depan.

Menteri LHK juga menyatakan akan melakukan pendalaman serta evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang di Bali. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah akan bekerja sama dalam memetakan kawasan rawan bencana sekaligus menyiapkan langkah mitigasi yang lebih efektif. Tujuannya, agar bencana serupa tidak kembali terjadi dengan dampak sebesar ini.


Penutup

Banjir bandang di Bali bukan hanya tragedi yang membawa korban jiwa dan kerugian besar, tetapi juga sebuah peringatan keras bagi semua pihak. Faktor alam berupa hujan deras memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan bila lingkungan dikelola dengan baik. Sampah yang tidak tertangani dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali terbukti menjadi faktor penting yang memperparah situasi.

Kini, masyarakat Bali berharap pemerintah serius dalam memperbaiki tata kelola lingkungan dan pembangunan. Hanya dengan langkah nyata, bencana seperti ini bisa dicegah agar tidak lagi memakan korban jiwa di masa mendatang.

Berita Hari Ini

Leave a Comment