Jakarta,arahakata – Dentum meriam sebagai penanda waktu berbuka puasa merupakan tradisi Ramadan yang telah berlangsung ratusan tahun di berbagai negara. Sebelum teknologi jam dan pengeras suara berkembang, suara meriam menjadi cara paling efektif untuk memberi tahu masyarakat bahwa matahari telah terbenam dan waktu berbuka telah tiba. Hingga kini, tradisi tersebut masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya dan simbol kebersamaan umat Muslim.
Tradisi meriam berbuka puasa tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga memiliki nilai historis dan spiritual. Suara dentumannya kerap disambut dengan suka cita, terutama oleh anak-anak dan wisatawan, karena menghadirkan nuansa Ramadan yang khas dan penuh nostalgia.
Table of Contents
ToggleMesir
Di Mesir, tradisi meriam Ramadan dikenal dengan sebutan midfa al-iftar. Tradisi ini sudah ada sejak era Kesultanan Mamluk dan masih dijalankan hingga sekarang, terutama di kawasan bersejarah seperti Kairo. Dentuman meriam menjadi simbol kuat datangnya waktu berbuka dan sering disaksikan masyarakat serta wisatawan.
Turki
Turki juga memiliki tradisi serupa yang dikenal sebagai Ramadan topu. Meriam biasanya ditembakkan dari bukit atau area tinggi di kota-kota besar seperti Istanbul. Tradisi ini menjadi bagian dari suasana Ramadan yang berpadu dengan azan magrib dan aktivitas berbuka bersama keluarga.
Malaysia
Di Malaysia, dentum meriam atau tembakan kehormatan masih dilakukan di beberapa daerah sebagai tradisi budaya, terutama di wilayah yang memiliki ikatan kuat dengan adat Melayu dan kesultanan. Meski kini azan dan siaran media lebih dominan, meriam tetap digunakan dalam acara-acara tertentu saat Ramadan.
Pakistan
Tradisi meriam berbuka puasa juga ditemukan di Pakistan. Di beberapa kota, meriam ditembakkan dari lokasi resmi seperti benteng atau lapangan besar. Selain sebagai penanda berbuka, tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai keagamaan dan sejarah militer setempat.
Indonesia
Di Indonesia, meski tidak merata, tradisi dentum meriam pernah populer di sejumlah daerah, terutama di lingkungan keraton atau komunitas adat. Saat ini, tradisi tersebut lebih sering dihidupkan kembali dalam bentuk festival budaya Ramadan sebagai upaya pelestarian sejarah.
Baca Juga : Trump Segera Putuskan Akan Kirim Banyak Senjata ke Taiwan
Dentum meriam tanda berbuka puasa menjadi bukti bahwa Ramadan tidak hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang tradisi kolektif yang mempererat hubungan sosial. Di tengah modernisasi, berbagai negara tetap menjaga tradisi ini sebagai pengingat sejarah dan identitas budaya yang memperkaya makna Ramadan bagi generasi masa kini.







