Eric Trump Sebut Prabowo Ingin Bahas Proyek Lapangan Golf dalam Pertemuan

Putri Arahkata

Foto Eric Trump dan Prabowo Subianto.

arahkata – Sebuah rekaman “hot mic” yang terekam secara tidak sengaja dalam acara KTT perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir (13 Oktober 2025) menimbulkan kehebohan diplomatik setelah terdengar Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, meminta agar dapat bertemu dengan putra Presiden Amerika Serikat, Eric Trump. Rekaman tersebut memicu spekulasi mengenai apakah pertemuan itu berkaitan dengan agenda bisnis, khususnya proyek properti dan golf milik Trump di Indonesia.

Dalam percakapan tersebut, Prabowo terdengar berkata bahwa ada wilayah yang “tidak aman, secara keamanan” dan kemudian bertanya kepada Trump, “Can I meet Eric?” Trump membalas: “I’ll have Eric call. Should I do that? He’s such a good boy. I’ll have Eric call.” Prabowo kemudian menambahkan “Eric or Don Jr.”, yang menunjukkan bahwa ia bersedia bertemu dengan Eric Trump ataupun Donald Trump Jr.

Dugaan Pembahasan Proyek Golf di Indonesia

Menanggapi rekaman itu, Eric Trump buka suara dan menyatakan bahwa ia merasa namanya disebut oleh Prabowo mungkin untuk membahas investasi Trump di Indonesia, khususnya proyek klub golf di Bali dan sekitar Jakarta.

Menurut pernyataan Eric (selain dari laporan media lokal seperti Detik), kedua proyek itu awalnya ditandatangani pada 2014 dan 2015, jauh sebelum Donald Trump menjabat sebagai Presiden AS. Ia menyebut bahwa proyek di Jakarta merupakan “lapangan golf hebat yang saya operasikan setiap hari”, dan proyek di Bali dirancang sebagai salah satu investasi besar mereka di Indonesia.

Baca Juga: Paspor AS Ditendang dari 10 Terkuat di Dunia! Jadi Setara Malaysia

Ia juga menyatakan bahwa ia “bangga” bila proyek-proyek tersebut mendapat perhatian dari kepala negara, dan bahwa kedua proyek itu mungkin termasuk “dua proyek real estat paling penting” dalam portofolio Trump di Indonesia.

Eric berusaha menegaskan bahwa bisnisnya di Indonesia tidak terkait langsung dengan politik atau kebijakan Gedung Putih. Dia menyatakan: “Semua yang ku lakukan tak ada hubungannya dengan Washington DC. Aku berusaha menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.”

Respons Pemerintah Indonesia & Pengamat

Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari Presiden Prabowo maupun Kantor Presiden Indonesia yang mengonfirmasi bahwa proyek lapangan golf termasuk dalam agenda pertemuan. Baik Istana Negara maupun pihak Menlu belum menanggapi secara rinci fenomena mic bocor tersebut.

Meski demikian, analis diplomasi dan media luar negeri memperhatikan bahwa kejadian ini memicu perdebatan mengenai batas antara kepentingan publik dan agenda bisnis pribadi. Di Asia Tenggara, terekamnya pejabat negara yang berbicara secara informal kepada pihak asing sering ditinjau ulang dengan pertanyaan: apakah itu bagian dari diplomasi resmi atau negosiasi bisnis terselubung.

Beberapa pengamat menilai bahwa kejadian tersebut tidak akan berdampak besar terhadap stabilitas politik domestik Prabowo, mengingat popularitasnya yang tetap solid di dalam negeri. Namun di ranah internasional, insiden tersebut menjadi perhatian etika hubungan bisnis-politik, terutama ketika seorang presiden negara berkembang tampak mencari akses ke bisnis swasta asing melalui saluran informal.

Kontestasi Etika dan Konflik Kepentingan

Kasus mic bocor ini menggarisbawahi isu klasik dalam pemerintahan Trump: sejauh mana bisnis pribadi keluarga Trump dapat dipisahkan dari jabatan publik Presiden. Sejak kepulangan Donald Trump ke Gedung Putih setelah masa jabatan sebelumnya, organisasi bisnisnya yang kini dijalankan oleh Eric dan Donald Trump Jr. menarik sorotan pengamat etika dan kebijakan publik.

Pihak Trump Organization dan pejabat Gedung Putih sebelumnya mengklaim bahwa Donald Trump tidak lagi terlibat dalam manajemen operasional bisnis sejak menjabat, dan bahwa aset-aset bisnisnya dikelola oleh trust keluarga. Namun setiap kemunculan interaksi langsung antara pejabat negara asing dan anggota keluarga Trump tetap memicu kekhawatiran tentang konflik kepentingan.

Kritikus berpendapat bahwa langkah informal, seperti “I’ll have Eric call you”, menunjukkan bahwa jalur komunikasi bisnis dapat memanfaatkan platform diplomasi antarnegara. Sebagai contoh, dalam laporan ABC News, disebut bahwa beberapa pihak menyatakan bahwa “tidak ada garis” antara kepresidenan Trump dan bisnisnya alias bahwa diplomasi bisa dibelokkan ke kepentingan komersial.

Potensi Dampak dan Langkah Berikutnya

Sampai saat ini, belum ada bukti kuat bahwa pertemuan formal antara Prabowo dan Eric Trump telah terjadi atau akan diumumkan secara resmi. Apabila pertemuan itu benar-benar terlaksana, ia bisa memunculkan sorotan mengenai legalitas investasi asing dalam proyek properti strategis (terutama kawasan pariwisata dan lahan golf) di Indonesia, termasuk aspek izin lingkungan, tata ruang, dan kemitraan lokal.

Bagi Indonesia, kejadian ini dapat menjadi tekanan agar proses investasi asing dilakukan dengan transparansi dan pengawasan yang kuat agar tidak ada kesan bahwa proyek itu diselewengkan melalui kontak pribadi pejabat tinggi. Bagi pemerintahan Trump, insiden ini memunculkan tanggung jawab untuk menegaskan bahwa langkah-langkah mitigasi konflik kepentingan benar-benar efektif, bukan sekadar formalitas.

Jika nanti ada bukti dokumen, agenda resmi, atau tanggapan langsung dari Prabowo, kantor presiden, atau lembaga pengawas, publik menunggu agar spekulasi bisa dijelaskan secara terbuka.

Berita Hari Ini

Leave a Comment