Jakarta,arahkata – Gelombang protes besar kembali mengguncang Israel setelah puluhan ribu warga Yahudi Ortodoks turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan wajib militer. Demonstrasi berlangsung di sejumlah titik utama, terutama di Yerusalem, dan menyasar langsung kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Selama bertahun-tahun, komunitas Yahudi Ortodoks mendapatkan pengecualian dari wajib militer dengan alasan menjalankan pendidikan agama penuh waktu. Namun, tekanan publik dan kebutuhan personel militer membuat pemerintah mempertimbangkan revisi aturan tersebut.
Rencana tersebut membuat pemimpin komunitas Ortodoks merasa hak keagamaan mereka terancam. Mereka menilai kewajiban tersebut akan mengganggu fokus pendidikan Talmud dan tradisi religius mereka.
Para demonstran membawa poster berisi kecaman dan simbol perlawanan. Lantunan doa serta seruan penolakan menggema di sepanjang jalan. Petugas keamanan diterjunkan untuk mencegah bentrokan dan mengatur arus massa.
Beberapa peserta aksi bahkan memilih melakukan civil disobedience, termasuk blokade jalan, sebagai bentuk penegasan sikap.
Netanyahu berada dalam tekanan politik berlapis. Di satu sisi, pemerintah harus memenuhi kebutuhan militer negara yang terus menghadapi ancaman keamanan. Di sisi lain, memaksa komunitas Ortodoks berpotensi memicu retak koalisi — mengingat sebagian sekutu politiknya berasal dari partai berbasis ultra-religius.
Baca Juga : Korban Tewas Badai Terkuat di Bumi Tahun Ini Jadi 50 Orang
Sejumlah warga Israel yang sudah menjalani wajib militer menilai pengecualian selama ini tidak adil. Mereka menuntut pembagian kewajiban yang setara, mengingat militer merupakan komponen vital pertahanan negara.
Komunitas Ortodoks Tak Mau Bergeming
Pemimpin religius menegaskan bahwa tradisi belajar kitab suci adalah bentuk “pelayanan spiritual” kepada bangsa Israel. Mereka bersumpah akan terus melakukan aksi jika pemerintah tetap memaksa.
Hingga kini, belum ada kesepakatan final. Pemerintah tengah mencermati risiko sosial, politik, dan keamanan. Namun, gelombang protes terbaru menunjukkan isu ini bisa menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam lanskap politik Israel.







