arahkata – Presiden Tiongkok Xi Jinping mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un duduk bersama dalam sebuah pertemuan bersejarah di Beijing, yang menandai pertama kalinya ketiganya tampil bersama di muka publik.
Acara itu berlangsung di sela-sela parade militer besar di Lapangan Tiananmen yang dirancang untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sekaligus menampilkan teknologi militer pergantian Tiongkok. Sejumlah analis Barat menyebut pertemuan ini sebagai terbentuknya apa yang mereka sebut “Poros Pergolakan”, menunjukkan solidaritas antara rezim yang mulai terkurung dalam isolasi oleh Barat.
Menurut laporan Reuters, Xi menyambut Putin dengan hangat di Balai Agung Rakyat, sementara Kereta berpensi Kim Jong Un sedang dalam perjalanan menuju Beijing. Meski belum dijelaskan adanya pembicaraan trilateral yang formal, Kim diperkirakan akan menghadiri parade bersamaan dan potensi pertemuan bilateral dengan Xi dan Putin tetap terbuka.
Pertemuan ini tidak hanya bersifat simbolis: Rusia dan Tiongkok melaporkan memperluas kerja sama energi dan infrastruktur, sementara Korea Utara memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menampilkan kemajuan militernya. Xi juga menggunakan platform ini untuk membentuk sistem tata kelola global baru yang lebih adil dan polarisasi multipolar, sebagai alternatif terhadap model yang mendominasi negara-negara Barat.
Kehadiran Kim Jong Un di Beijing ini juga memiliki bobot historis: ini adalah partisipasi pertamanya dalam pertemuan multilateral sejak berkuasa hampir 14 tahun lalu.Kereta lapis baja Kim dijuluki “benteng bergerak” berangkat dari Pyongyang untuk perjalanan lebih dari 1.300 km menuju Beijing.
Secara lebih luas, peristiwa ini mencerminkan perubahan nyata dalam lanskap geopolitik: semakin kuatnya sinergi antara kekuatan global yang menjauhkan diri dari sekutu Barat.Tiongkok tampak ingin memperkuat posisinya sebagai pemimpin global baru, dengan mengonsolidasikan dukungan dari negara-negara seperti Rusia dan Korea Utara. Akibatnya, Barat khususnya Amerika Serikat menghadapi tantangan baru dalam mempertahankan pengaruh mereka di Asia dan sekitarnya.







