Purbaya Sidak Bank Mandiri, Begini Hasil Temuannya

Putri Arahkata

Foto Purbaya sidak ke bank mandiri. Dok: arahkata

arahkata – Jakarta, 6 Oktober 2025 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hari ini melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantor pusat Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai bagian dari upaya pengawasan terhadap realisasi dana pemerintah senilai Rp 55 triliun yang telah ditempatkan ke bank tersebut. Tujuan sidak ini adalah untuk memastikan bahwa dana tersebut digunakan sesuai arahan: disalurkan ke sektor produktif dan menyentuh sektor riil.

Penempatan Dana Pemerintah ke Himbara

Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan dana total sebesar Rp 200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam rangka mendorong upaya pemulihan ekonomi dan memperkuat likuiditas sistem perbankan. Dari jumlah tersebut, Rp 55 triliun dialokasikan khusus ke Bank Mandiri. Beberapa waktu lalu, Purbaya telah melakukan sidak serupa ke BNI untuk memeriksa penyerapan dana.

Kronologi Sidak & Keterangan Purbaya

Kedatangan Purbaya ke Bank Mandiri dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga manajemen internal tampak terkejut dengan kunjungan mendadak tersebut. Purbaya sendiri sempat menyebut bahwa “mereka nggak tahu, baru tahu tadi pagi” ketika ia memasuki kantor bank tersebut. Dalam pengamatannya, Purbaya didampingi oleh Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir.

Menurut Purbaya, dari dana Rp 55 triliun itu, sekitar 70 persen telah terserap melalui penyaluran kredit ke sektor produktif. Hal ini ia jadikan bukti bahwa Bank Mandiri relatif lebih siap dalam menyalurkan stimulus ke sektor riil dibandingkan dengan bank pelat merah lainnya. Selain itu, Purbaya menyatakan bahwa pihak bank telah mengajukan permintaan tambahan dana, khususnya agar penyaluran bisa diperluas ke sektor properti dan otomotif. “Mungkin mereka minta lagi kalau bisa ada tambahan, yang bisa disalurkan ke sektor yang lain,” ujar Purbaya.

Baca Juga: Prabowo Akan Lantik Komite Reformasi Polri Pekan Depan

Purbaya juga menyoroti pertumbuhan kredit Bank Mandiri yang menunjukkan tren positif. Menurutnya, dalam waktu kurang dari sebulan, laju pertumbuhan kredit naik dari sekitar 8 persen menjadi hampir 11 persen. Ia melihat ini sebagai sinyal bahwa stimulus perbankan mulai berdampak ke ekonomi riil. Dengan capaian ini, Purbaya optimis bahwa kuartal IV 2025 bisa mencetak pertumbuhan ekonomi di atas 5,5 persen.

Tanggapan Bank Mandiri & Penyaluran Riil

Dari pihak Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy, menyampaikan bahwa hingga akhir September 2025, realisasi penyaluran dana pemerintah ke bank tersebut telah mencapai sekitar 63 persen, atau setara Rp 34,5 triliun. Novita menegaskan bahwa penyaluran difokuskan pada sektor padat karya, terutama yang berorientasi ekspor, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor yang memiliki dampak langsung ke masyarakat. Ia menambahkan bahwa Bank Mandiri berkomitmen agar dana ini bisa membantu pelaku usaha untuk naik kelas dan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Meski demikian, terdapat selisih antara angka 70 persen yang disebut Purbaya dan 63 persen yang dilaporkan bank. Perbedaan ini bisa berasal dari metode pengukuran apakah berdasarkan komitmen penyaluran atau realisasi fisik atau waktu pelaporan yang berbeda. Pemerintah perlu memastikan bahwa angka yang dikomunikasikan kepada publik bersumber dari data yang kredibel dan akurat agar tak menimbulkan kebingungan.

Catatan, Tantangan, dan Rekomendasi

Hasil sidak kali ini menyajikan dua sisi: satu sisi menunjukkan bahwa Bank Mandiri relatif cepat dalam menyerap dana pemerintah; sisi lain, masih terdapat ruang untuk memperluas penyaluran ke sektor-sektor yang belum tersentuh, seperti properti dan otomotif. Permintaan tambahan dana oleh Bank Mandiri menjadi sinyal bahwa bank melihat potensi untuk memperbesar cakupan kredit produktif.

Baca Juga: Ajudan Ungkap Alasan Jokowi Tak Hadiri HUT Ke-80 TNI di Monas

Namun, perlu diwaspadai bahwa mempercepat penyaluran kredit dalam jumlah besar bisa menghadirkan risiko kualitas kredit jika penilaian kelayakan (credit underwriting) tidak dilakukan secara ketat. Pemerintah dan otoritas keuangan perlu menjaga keseimbangan antara kecepatan penyaluran dan mekanisme pengendalian risiko agar tidak menimbulkan kredit bermasalah di masa mendatang.

Lebih jauh, agar stimulus ini efektif mendorong pertumbuhan ekonomi, penempatan dana ke bank bukanlah tujuan akhir yang terpenting adalah bagaimana dana tersebut benar-benar mengalir ke sektor riil, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekspor, dan mendukung investasi produktif di daerah-daerah. Pemerintah juga harus memonitor dampaknya secara berkelanjutan, dari sisi efektivitas kebijakan hingga dampak makroekonomi apakah skema ini akan memperlebar kesenjangan antarsektor atau menggandeng daerah tertinggal.

Inspeksi mendadak Purbaya ke Bank Mandiri hari ini menghasilkan temuan bahwa sekitar 70 persen dari dana Rp 55 triliun telah terserap meski data internal bank menyebut angka 63 persen. Permintaan tambahan dana oleh bank dan pertumbuhan kredit yang meningkat menjadi sorotan utama, menunjukkan optimisme bahwa stimulus perbankan mulai menunjukkan efek pada sektor riil. Namun, ada tantangan serius terkait pengendalian risiko dan efektivitas penyaluran yang harus ditangani agar kebijakan ini tidak hanya menjadi angka di atas kertas, melainkan menjadi motor nyata pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir 2025.

Berita Hari Ini

Leave a Comment