arahkata – Isu TikTok kembali memanas setelah Donald Trump mendorong agar aplikasi asal Tiongkok itu segera diambil alih oleh perusahaan Amerika Serikat. Wacana ini dinilai dapat memicu ketegangan diplomatik baru dengan Beijing yang sudah berulang kali menolak tekanan tersebut.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa TikTok berpotensi mengancam keamanan nasional karena aplikasi ini dianggap mampu mengakses data pribadi pengguna di AS.
Kita tidak boleh membiarkan data generasi muda Amerika jatuh ke tangan pihak asing. TikTok harus berada di bawah kendali perusahaan kita sendiri, ujar Trump.
Langkah ini dinilai sejalan dengan kebijakan keras Trump terhadap perusahaan Tiongkok sejak masa pemerintahannya yang pertama.
Pemerintah Tiongkok menilai upaya tersebut merupakan bentuk tekanan politik yang tidak adil. Menurut Beijing, TikTok adalah simbol kekuatan digital Tiongkok yang sukses di pasar global.
Baca Juga : Gempa Bumi Magnitudo 5,7 Guncang Banyuwangi Jatim
Pemaksaan transfer kepemilikan hanya akan merusak iklim investasi internasional, demikian pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Beijing bahkan disebut siap mengambil langkah balasan terhadap perusahaan teknologi Amerika jika Washington tetap bersikeras.
Pengamat menilai polemik ini bukan sekadar soal aplikasi hiburan, melainkan bagian dari kompetisi teknologi global. Amerika ingin memastikan dominasi digitalnya tetap terjaga, sementara Tiongkok berupaya mempertahankan posisi di pasar internasional.
Ini bisa memicu babak baru dalam perang teknologi, yang dampaknya bukan hanya pada TikTok, tapi juga sektor ekonomi digital dunia, kata analis internasional.
Hingga kini, TikTok masih beroperasi normal di AS dengan ratusan juta pengguna aktif. Namun, jika terjadi pengalihan kepemilikan, kemungkinan akan ada perubahan pada aturan konten, algoritma, hingga kebijakan privasi.
Pengguna juga khawatir jika konflik politik semakin tajam, aplikasi tersebut berpotensi diblokir sementara hingga ada keputusan final.
-
Donald Trump kembali menekan agar TikTok dikuasai perusahaan Amerika.
-
Beijing menolak keras, bahkan ancam balasan diplomatik.
-
Polemik ini dinilai bagian dari perang teknologi global antara AS dan Tiongkok.
Ke depan, semua mata tertuju pada langkah lanjutan Washington dan Beijing. Apakah kompromi bisa tercapai, atau persaingan digital justru makin sengit?







