arahkata.com – Sekitar 3.000 ekor sapi betina asal Uruguay dilaporkan masih terkatung-katung di atas kapal pengangkut ternak Spiridon II di Laut Marmara, Turki. Kapal tersebut sudah hampir dua bulan tidak diizinkan merapat ke pelabuhan mana pun setelah otoritas Turki menemukan pelanggaran serius dalam dokumen dan sistem identifikasi hewan.
Menurut laporan berbagai media internasional seperti Turkish Minute dan The Straits Times, kapal berbendera Panama itu awalnya berlayar dari Pelabuhan Montevideo, Uruguay, pada 19 September 2025 dengan tujuan utama Pelabuhan Bandırma, Turki, membawa 2.901 ekor sapi betina. Kapal tersebut disewa oleh beberapa perusahaan impor ternak Turki untuk memenuhi kebutuhan daging dan pembiakan menjelang musim dingin.
Namun, ketika kapal tiba di wilayah perairan Bandırma sekitar 22 Oktober, pihak berwenang melakukan pemeriksaan mendetail dan menemukan ratusan sapi tidak memiliki tanda telinga (ear tag) alat identifikasi wajib untuk memastikan asal usul hewan. Selain itu, sebagian data dalam dokumen ekspor tidak sesuai dengan catatan digital sistem peternakan Uruguay.
Temuan ini membuat Direktorat Jenderal Pertanian dan Kehutanan Turki (MoAF) langsung menolak izin sandar dan pembongkaran muatan. Akibatnya, kapal Spiridon II dipaksa berlabuh di lepas pantai sekitar 6 mil laut dari Bandırma, menunggu keputusan akhir yang hingga kini belum juga turun.
Kondisi Mengerikan di Kapal
Organisasi perlindungan hewan internasional, Animal Welfare Foundation (AWF), menyebut situasi di kapal tersebut sudah sangat kritis. Dalam pernyataan resminya, AWF mengatakan bahwa para awak kapal terpaksa menghemat air minum dan pakan karena logistik sudah menipis sejak akhir Oktober.
“Berdasarkan laporan lapangan kami, sedikitnya 48 ekor sapi telah mati selama masa penahanan di laut. Bangkai beberapa hewan terpaksa dibuang ke laut karena ruang penyimpanan dingin penuh,” tulis AWF dalam laporannya yang dikutip Turkish Minute (12/11).
Kondisi ini diperparah oleh ventilasi kapal yang buruk. Temperatur kabin mencapai lebih dari 35 derajat Celsius di siang hari, membuat sapi-sapi kepanasan dan stres berat. Para kru juga melaporkan beberapa hewan mengalami luka akibat saling menubruk di ruang kandang sempit.
Sementara itu, warga pesisir Bandırma mulai mengeluhkan bau busuk dan banyaknya lalat di sekitar wilayah pantai. Mereka menduga bau tersebut berasal dari kapal yang membawa ribuan sapi tersebut. “Bau busuk terasa bahkan sampai ke pemukiman kami,” kata Huseyin Demir, seorang warga setempat kepada media lokal Haberler Turk. “Kami meminta pemerintah segera menyelesaikan masalah ini. Hewan-hewan itu menderita dan kami pun terkena dampaknya.”
Baca Juga: Malaysia Minta Pemerintah Jadikan Durian Buah Nasional
Pemerintah Turki Angkat Bicara
Kementerian Pertanian Turki melalui juru bicaranya, Mehmet Yilmaz, membenarkan adanya penolakan masuk terhadap kapal Spiridon II. Ia menyebut keputusan tersebut diambil karena “pelanggaran serius terhadap prosedur kesehatan dan dokumen impor.”
“Turki memiliki regulasi ketat untuk melindungi biosekuriti nasional. Setiap hewan impor harus memiliki identifikasi elektronik. Dalam kasus ini, ada hampir 500 ekor sapi tanpa tanda resmi, dan sebagian lagi terindikasi tidak sesuai data asal,” ujar Yilmaz dalam konferensi pers di Ankara.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa mengizinkan masuknya hewan tanpa dokumen sah, karena bisa berpotensi menularkan penyakit ternak seperti foot-and-mouth disease (penyakit mulut dan kuku).
Namun, Kementerian juga mengaku sedang berkoordinasi dengan pihak kedutaan Uruguay dan perusahaan importir agar bisa mencari solusi kemanusiaan. “Kami tidak ingin hewan-hewan itu terus menderita di laut. Ada opsi untuk memulangkan ke Uruguay atau memindahkan ke pelabuhan negara lain,” tambahnya.
Respons dari Uruguay dan Dunia Internasional
Pemerintah Uruguay melalui Kementerian Pertanian dan Perikanan (MGAP) menyatakan kekecewaannya atas keputusan Turki. Dalam pernyataannya, MGAP menegaskan bahwa semua hewan yang dikirim telah melewati proses karantina dan pemeriksaan ketat di Uruguay sebelum diberangkatkan.
“Kami memastikan bahwa seluruh sapi sehat dan memenuhi standar ekspor. Masalah dokumentasi bisa jadi akibat kesalahan sistem pelabelan elektronik,” kata Fernando Mattos, Menteri Pertanian Uruguay.
Kasus ini kemudian menarik perhatian dunia internasional, terutama aktivis perlindungan hewan. Organisasi seperti PETA dan World Animal Protection menyerukan penghentian total ekspor hewan hidup jarak jauh karena dianggap “tidak manusiawi dan penuh risiko.”
Menurut data AWF, dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 200.000 hewan ternak mati di laut akibat panas, kekurangan air, atau penyakit selama pengiriman antarnegara.
Masalah Lama dalam Industri Ekspor Hewan Hidup
Kapal Spiridon II sendiri bukan kapal baru di dunia ekspor ternak. Kapal berusia 52 tahun itu sebelumnya pernah digunakan dalam rute serupa dari Amerika Selatan ke Timur Tengah. Pada 2022, kapal ini juga sempat menjadi sorotan ketika terdampar di Spanyol dengan muatan sapi yang tidak lulus pemeriksaan.
Menurut MarineTraffic, Spiridon II memiliki kapasitas angkut 3.200 ekor sapi dengan panjang 160 meter dan bobot 11.500 ton. Kapal dioperasikan oleh perusahaan pengangkut asal Lebanon dan didaftarkan di Panama dua negara yang dikenal memiliki pengawasan maritim longgar.
Masalah utama dalam industri ekspor ternak hidup adalah minimnya pengawasan lintas negara, terutama terkait kesehatan hewan, ventilasi kapal, dan kesejahteraan hewan selama perjalanan panjang yang bisa memakan waktu 30–45 hari.
Baca Juga: Kapal Tabrakan dengan Tanker di Perairan Singapura
Tekanan Publik dan Jalan Keluar
Gelombang kritik terhadap Turki semakin meningkat. Petisi online yang dibuat oleh aktivis setempat di platform Change.org telah ditandatangani lebih dari 250.000 orang dalam waktu dua hari, menuntut pemerintah agar segera mengevakuasi sapi dari kapal.
Media lokal melaporkan bahwa otoritas Turki kini sedang mempertimbangkan dua opsi:
-
Mengizinkan kapal bersandar sementara untuk memberikan pakan, air, dan pemeriksaan medis bagi hewan yang masih hidup.
-
Mengembalikan kapal ke Uruguay atau negara netral yang bersedia menerima sementara hingga dokumen diperbaiki.
Namun hingga Rabu (13/11) malam, belum ada keputusan final. Sementara itu, awak kapal dilaporkan bekerja hampir 20 jam per hari untuk menjaga hewan agar tidak mati lebih banyak.
Pelajaran dari Tragedi Laut Marmara
Kasus ini menyoroti sisi gelap perdagangan ternak global di mana hewan dianggap sebagai komoditas, bukan makhluk hidup yang membutuhkan kesejahteraan. Para pengamat menilai pemerintah di seluruh dunia harus mulai beralih ke sistem ekspor daging beku ketimbang ekspor hewan hidup yang rawan penyiksaan.
“Ini tragedi yang bisa dihindari,” ujar Dr. Leyla Kurt, dosen kedokteran hewan di Universitas Ankara. “Jika ada kesalahan dokumen, seharusnya diselesaikan secara administratif, bukan dengan membiarkan ribuan hewan menderita di laut selama berminggu-minggu.”
Hingga berita ini diturunkan, kapal Spiridon II masih berlabuh di perairan Bandırma. Ribuan sapi di dalamnya terus berjuang bertahan hidup di tengah panas, bau busuk, dan minimnya pasokan air. Pemerintah Turki berjanji segera menemukan solusi, namun setiap jam yang berlalu berarti penderitaan baru bagi hewan-hewan tersebut.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi dunia internasional: perdagangan hewan hidup lintas benua bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga kemanusiaan dan moralitas.







